Tidak seperti biasa, sejak akhir tahun 2018 hingga sekarang warga KLU ramai-ramai mengurus akta kematian. Pasalnya, KLU terkena dampak gempa bumi yang cukup dahsyat yang mengakibatkan banyaknya warga menjadi korban meninggal dunia.

Hal itu dikemukakan Kasi Perubahan Status dan Kematian Dinas Dukcapil KLU, Maridep, disela-sela pelayanan keilling pemenuhan dokumen identitas hukum LPA-Unicef bekerjasama dengan Dinas Dukcapil, Rabu (20/2). Menurut Maridep, sebanyak 800 dokumen akta kematian digelontorkan. Jumlah ni jauh berbeda dibandingkan hari-hari biasa.

“Jika hari biasa paling banter yang mengurus akta kematian 1-2 orang saja. Setelah terjadinya musibah gempa, mereka yang mengurus akta kematian mencapai 800 an,” katanya. Pengurusan akta kematian itu sendiri berkenaan dengan perubahan kartu keluarga (KK) masyarakat. Jika ada warga yang meninggal dunia secara otomatis harus dilakukan perbaruan KK.

Ia mengakui selama ini pengurasan akta kematian belum dianggap penting oleh warga masyarakat. Padahal, mengabaikan hal ini bisa penyebabkan tumpang tindih data pemerintah. Karena itulah pihaknya merasa senang dengan kesadaran warga mengurus akta kematian.

Upaya pemenuhan identitas hukum warga yang belakangan gencar dlaksanakan turut mengatrol keinginan warga mengurus akta kematian, walaupun warga yang meninggal sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya. “Tapi hal ini tidak hanya di KLU, di Palu juga terjadi hal serupa,” ujarnya. Ian