Pondok Anak Ceria digelar LPA NTB-Unicef di 20 desa pada tiga kabupaten di NTB yang terpapar bencana. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan penyelenggaraan kegiatan perlindungan anak dalam situasi darurat sesuai dengan prinsip-prinsip perlindungan anak dalam aksi kemanusiaan.

Koordinator Psikososial LPA NTB, Warniati, Rabu (6/3), mengemukakan Pondok Anak Cerita diikuti anak berusia dibawah 10 tahun, masing-masing di Kecamatan Bayan, Gangga, Kayangan, Tanjung dan Pemenang, KLU. Terdapat juga di Lombok barat di Kecamatan Batulayar dan Gunung Sari. Sedangkan di Lotim di Kecamatan Sambelia dan Sembalun.

Pondok Anak Ceria berupaya agar anak-anak secara posikologi dan sosial bisa pulih akibat bencana alam yang menerjang Lombok beberapa waktu lalu. “Setidaknya kondisi psikis mereka terbebas dari trauma dan stress. Jadi kita ingin mengembalikan keberfungsian sisi sosial anak,” paparnya tentang kegiatan yang berlangsung tiga kali seminggu itu.

Isi acara meliputi acara berbagai olah kreatifitas yang bersifat hiburan disamping yang bersifat edukatif menyangkut apakah ada perhatian terhadap anak terkait identitas hukum mereka. “Banyak kegiatan yang melibatkan aspek kognitif maupun motorik bagi anak,” ujarnya.

Anak-anak yang mengikuti kegiatan Pondok Anak Ceria berbeda di masing-masing desa, yaitu antara 20 hingga 70 anak.  Jumlah peserta itu sendiri tidak dibatasi. Kegiatan ini melibatkan fasilitator remaja.

Menurut Warniati, para orangtua sangat antusias mendorong anaknya mengikuti Pondok Anak Ceria yang sudah dimulai sejak Februari 2019 dan akan berakhir April 2019 itu. “Pondok Anak Ceria ini akan menjadi pos ramah anak. Jika anak ada yang mengalami kekerasan, di sana nantinya akan dikuatkan baik anaknya maupun orangtuanya,” kata Warniati.

Sebagai daerah yang rawan gempa, para anak-anak juga dilatih berbagai hal menyangkut pengamanan seperti mitigasi bencana. Secara komperehensif, kata dia, persoalan anak ini akan terintegrasi semuanya. Diharapkan akan ada 5.000 anak yang terpapar dalam program ini.

Disisi lain akan digelar pula acara khusus berupa program Temu Penguatan Anak dan Keluarga (Tepak) bulan Maret yang melibatkan minimal 1.000 orangtua. ian