Empat orang anak di Kota Mataram lahir dari pasangan satu ibu lain bapak. ketika sang ibu meninggal dunia akhir 2019, anak-anak yatim piatu itu berada dalam asuhan sang nenek bernama Rakmah (56 tahun). Mengetahui fakta itu, Pusat Kesejahteraan Anak Integratif (PKSI) Kota Mataram, segera bereaks melakukan pendampingani. Sikap peduli tersebut kemudian melahirkan iklim baru dipemerintahan berupa komitmen terkait sistem kesejahteraan sosial anak integraf.

Rakmah yang bermukim di sebuah gubuk kecil tidak memiliki pekerjaan tetap. Kondisi tersebut membuat cucu-cucunya menjadi terlantar. Untuk menghidupi mereka, tidak ada jalan lain kecuali mengharapkan belas kasihan tetangganya.

Setiap hari para tetangga di Gegutu Timur, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram memberikan bantuan kepadanya. Sesekali Rakmah bekerja serabutan sebagai buruh tani. Sedangkan satu-satunya bantuan pemerintah yang diterima berupa Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Rastra dari Kemensos RI melalui Dinas Sosial Kota Mataram.

Kisah yang menima Rakmah ini menarik perhatian karena menjadi kasus yang sangat langka. Bayangkan, ketika ibu dari anak-anak itu meninggal dunia, pengasuh anak-anaknya adalah sang nenek. Bagaimana dengan ayah-ayah sang anak? Ternyata, tidak satu pun ayahnya yang peduli karena mereka tidak diketahui lagi rimbanya. Pihak keluarga bahkan menganggap para mantan suami almarhum Maedah, ibu dari anak-anak itu, sudah mati!

Tentang Maedah

Maedah dikenal sebagai gadis yang cantik rupawan dengan kulit putih mulus. Ia menikah pertama dengan seorang pria dari KLU tahun 2006. Dari perkawinan tersebut lahirlah Y. Perkawinannya tidak berlangsung lama karena mereka bercerai. Tahun 2007 Maedah menikah lagi dengan seorang lelaki dari Kabupaten Lombok Barat dan dikaruniai anak kedua berinisial H tahun 2008. Lagi-lagi perkawinannya kandas ditengah jalan.

Pada tahun 2009 Maedah menjadi TKW ke Arab Saudi. Hanya setahun berada di sana, Maedah pulang ke Tanah Air dalam keadaan bunting. Lahirlah bayi berinisial MF tahun 2010. Namun, belum saja anaknya yang ketiga beranjak besar, Maedah kembali menikah dengan pria yang berasal dari Kota Mataram hingga dikaruniai anak keempat tahun 2016 berinisial MA. Kelahiran si bungsu disusul pula dengan perceraian.

Putri Sulung Nikah Dini

Pada tahun 2017-2018 Maedah merasakan gejala sakit. Ia divonis terserang kanker. Setelah dikemotherapi, diketahui dia mengidap kanker kista. Nah, selama masa perawatan di RSUD NTB, Maedah berada satu kamar dengan seorang ibu yang memiliki satu anak laki-laki berinisial A.

Secara kebetulan, putri sulung Maedah yang berinisial Y, hadir menunggu ibunya. Di sanalah kedua orangtua yang sama-sama sakit itu serta merta menjodohkan anaknya. Y yang masih berusia 12 tahun akhirnya dinikahkan dengan A. Maedah meninggal dunia akhir tahun 2019. Emat anaknya pun menjadi tanggunan Rakmah.

Ditangani PKSAI Kota Mataram

Rakmah tinggal di sebuah gang kecil Lingkungan Gegutu Timur, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia berusaha sendiri sesuai kemampuannya. Ia tak kenal lelah dan dengan berbagai cara membanting tulang yang penting halal. Salah seorang cucu yang sudah menikah dini juga masih tinggal di sana.

Selama ini Rakmah hanya mendapatkan bantuan dari Pemerintah berupa Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/RASTRA dari Kementeria Sosial RI melalui Dinas Sosial Kota Mataram. Sedangkan untuk bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dia tidak mendapatkan lagi karena komponen-komponen persyaratan baru Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) mengeluarkannya dari katagori itu.

Adapun komponen KPM PKH antara lain ada ibu hamil/balita dan ada anak-anaknya yang masih bersekolah/disabilitas/ada warga lanjut usia. Lanjut usia dalam komponen bantuan PKH adalah warga telah berusia minimal 70 tahun.

Mengetahui fakta-fakta yang menimpa Rakmah bersama cucunya, Tim PKSAI Kota Mataram melakukan asesmen dan pembahasan kasus (case conference) dengan lembaga layanan guna menyusun rencana intervensi yang tepat. Dari evaluasi yang dilakukanim PKSAI Kota Mataram, kasus ini akan diintervensi. Misalnya berupa penguatan parenting untuk Rakmah dan penguatan resiliensi (ketahanan) kepada keempat cucunya agar bisa melindungi dirinya dari berbagai macam kekerasan dari orang lain.

Untuk menjamin keberlangsungan kehidupannya secara berkelanjutan, Rakmah  diusulkan menjadi calon peserta pelatihan keterampilan bagi Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE) sekaligus penerima bantuan stimulan berupa peralatan dan bahan untuk berusaha sesuai dengan bakat dan minatnya.Bantuan ini berasal dari Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kota Mataram. Selanjutnya diusulkan juga menjadi anggota Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Kementerian Sosial RI melalui Dinas Sosial.

Diusulkan juga agar ada bantuan beasiswa bagi dua orang cucunya yang sekolah dari Dinas Pendidikan Kota Mataram. Pun agar mendapatkan jaminan sosial kesehatan gratis dari Dinas Kesehatan Kota Mataram.

Dinas Sosial Kota Mataram sendiri  mengusulkan cucu Rakmah menjadi anak pada Asuhan Keluarga  Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Al Hidayah Tempit Ampenan agar dapat mengakses bantuan BANTU ANAK dari Kementerian Sosial.

Dinas Sosial Kota Mataram pun akan memberikan bantuan kebutuhan dasar (bantuan paket perlengkapan sekolah, peralatan kebersihan badan, dan per makanan) untuk mengurangi beban ibu Rakmah saat tahun ajaran baru serta cucunya termotivasi untuk terus bersekolah.
Tim PKSAI Kota Mataram pun mengusulkan ke Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perumahan dan Permukiman agar Rakmah mendapatkan program bantuan Bedah Rumah.

Selanjutnya Tim PKSAI Kota Mataram  mengadakan pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan bantuan tersebut.

Kasus Rakmah hanya salah satu kasus penerlantaran yang ditangani PKSAI Kota Mataram.Tedapat deretan kasus lain yang juga menyedihkan. Salah satunya terkait seorang ayah asal Kabupaten LombokTengah yang membawa anaknya yang masih bayi untuk mengamen di Kota Mataram. Kasus-kasus ini mencoba dibagikan digrup WA untuk membangkitkan semangat peduli khususnya di lingkungan OPD yang tergabung dalam PKSAI.

Selama bulan Januari hingga 30 Juni 2020, PKSAI Kota Mataram telah menerima pengaduan dari masyarakat untuk difasilitasi dengan perangkat daerah yang terkait pemenuhan hak dasar anak sebanyak  2.519 pengaduan. Pengaduan terdiri dari 560 pelayanan bantuan pendidikan, 1.422 pelayanan bantuan sosial, 10 pelayanan kepada anak terlantar, 92 pelayanan kepada anak disabilitas, 1 pelayanan bantuan kesehatan, 411 pelayanan pembuatan dokumen adminduk, 2 pelayanan perebutan hak asuh, dan 9 pelayanan kepada anak berhadapan dengan hukum,1 pelayanan kepada korban kekerasan fisik, 2 pelayanan kepada korban kekerasan seksual, 9 pelayanan kepada korban kekerasan eksploitasi ekonomi.

Menarik Perhatian Walikota Mataram

PKSAI Kota Mataram dibentuk berdasarkan Peraturan Walikota Mataram Nomor 38 Tahun 2019.Keberadaaanya merupakan model layanan yang diselenggarakan secara terarah, terpadu dan berkelanjutan. Tujuannya mencegah terjadinya hambatan dan gangguan pemungsian sosial pada anak dan keluarganya, memulihkan dan mengembangkan fungsi sosial anak, keluarga, dan lingkungan sosialnya sehingga anak tumbuh kembang secara optimal.

Sesuai SK Walikota Mataram Nomor : 1105/IX/2019, Pembina PKSAI Kota Mataram adalah Walikota Mataram dan Wakil Walikota Mataram, Pengarah Sekretaris Daerah Kota Mataram serta Ketua Tim oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram. Institusi Layanan yang tergabung dalam PKSAI Kota Mataram adalah Polresta Mataram, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Dinas Kesehatan, Dinas Komunikasi dan Informasi, Kementerian Agama, Bagian Organisasi Setda Kota Mataram, Bagian Hukum Setda Kota Mataram, Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Mataram, Tim PKK Kota Mataram, LPA Kota Mataram. Sekretariat PKSAI Kota Mataram saat ini beralamat di Jalan Jln. R.A. Kartini No.3 Monjok Timur., Kec. Selaparang, Kota Mataram..

Melihat kiprah PKSAI Kota Mataram, Walikota Mataram, H.Ahyar Abduh, kemudian melaunching Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI) Kota Mataram, Selasa (14/7/ 2020). Launching dihadiri oleh semua Asisten Setda Kota Mataram, pimpinan perangkat daerah yang termasuk gugus tugas Covid-19 Kota Mataram, institusi layanan PKSAI Kota Mataram dan pimpinan BRSAMPK Paramitha di Mataram, ketua LPA Provinsi NTB dan Ketua LPA Kota Mataram.

Kegiatan tersebut dirangkai juga dengan penyaluran secara simbolis Paket Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Spesifik untuk Anak dan Perempuan yang terdampak Covid-19 yang diwakili oleh anak yang telah sembuh dari Covid-19. Jumlah paket seluruh paket mencapai 231 unit.

Selain itu, terdapat juga paket alat bantu permainan anak (Recreational Kit) dari Unicef bagi institusi kesehatan yang menangani anak yang terpapar Covid-19 yang diwakili oleh Direktur RSUD Kota Mataram dengan jumlah paket seluruhnya 4 paket. Paket ketiga berupa bantuan permainan anak (Recreational Kit) bagi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang diwakili olehi Pimpinan LKSA Nurul Jannah NW Ampenan dengan jumlah seluruhnya 12 paket. Dan, keempat penyerahan secara simbolis hasil pelayanan PKSAI Kota Mataram yaitu kebutuhan hak dasar anak sebagai warga Negara berupa akte kelahiran dan kartu identitas anak.


Hari Anak Nasional dan Integrasi Berbagai Layanan

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Kota Mataram, Kamis (23/7), agak unik. Pasalnya, hari bersejarah nasional itu digelar di lingkungan kumuh yang banyak penduduknya berprofesi sebagai pemulung. PKSAI Kota Mataram melaksanakan HAN dengan anak-anak pemulung bersamaan dengan gelar serupa Kemensos secara daring melalui virtual meeeting zoom yang diikuti 8.000 anak dari 34 provinsi d Indonesia termasuk Kota Mataram.

Untuk Kota Mataram, kegiatan HAN berlangsung di Kampung Butun indah, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya,Kota Mataram. Acara diikuti sebanyak 30 anak-anak pemulung yang sebagian besar belum bersekolah dengan protokol kesehatan covid 19.

Sebelum berlangsung peringatan HAN secara daring dari Kemensos, Sakti Peksos bersama TIM PKSAI Kota Mataram melakukan sosialisasi tentang perlindungan anak dengan tema “Stop Kekerasan Terhadap Anak”, penjelasan hak anak serta edukasi pola hidup bersih dan sehat. Pun edukasi pentingnya  dokumen adminduk dan pendidikan pada anak serta layanan-layanan bantuan yang bisa diakses kedepannya. Selain itu, dilakukan pula pemberian bantuan sembako dan air mineral kepada lansia dan seluruh KK  di lingkungan tersebut.

Penguatan Komitmen

Dalam kegiatan itu mengemuka komitmen bahwa Disdukcapil Kota Mataram siap memfasilitasi semua warga  rentan untuk pembuatan adminduk,  Dinas Pendidikan siap memfasilitasi anak-anak untuk bisa bersekolah baik formal (SD & SMP) atau non formal (PKBM) bagi warga usia anak yang belum bersekolah atau memiliki ijazah.DP3A Kota Mataram siap memberikan advokasi kepada anak-anak yang mendapat kekerasan dan perempuan untuk pemberdayaannya. Dikes siap memantau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi di Posyandu. Dinsos akan membuatkan rekomendasi bagi warga yang sakit dan diopname di RSUD Kota Mataram agar bisa gratis pembiayaannya.

Sedangkan LPA siap melakukan pendampingan untuk program Kesejahteraan anak dan advokasi untuk anak. Kata Lalu Aulia Khusnul Ridho,Kasi Rehsos pada Dinas Sosial Kota Mataram, dengan berintegrasi jauh lebih asyik dan mudah.

Pada Kamis (3/9), Ketua PKSAI Kota Mataram yang juga Asisten I Pemkot setempat, Lalu Martawang, melakukan pertemuan dengan LPA NTB dalam bentuk “Ngopi Santai”. Dalam pertemuan itu muncul komitmen yang sangat mendasar bagi terbangunnya sistem PKSAI yang lebih baik kedepan dalam sebuah program.

1.PKSAI Kota Mataram akan melakukan identifikasi profil masalah yang ada di Kota Mataram

2. Ketua PKSAI Kota Mataram akan mengundang seluruh kepala dinas yang tergabung di dalam PKSAI Kota Mataram untuk melakukan pertemuan formil sebagai tindak lanjut dari profil masalah yang telah dipetakan.

3. Melakukan aksi terkait masalah-masalah tersebut sebagai best praktice PKSAI Kota Mataram dan dibuatkan dalam bentuk naratif.

4. PKSAI Kota Mataram harus mempercepat agenda advokasi anggaran yang nantinya Asisten 1 selaku ketua PKSAI Kota Mataram siap  mengawalnya melalui Bappeda Kota Mataram.

4. Ketua PKSAI Kota Mataram akan siap mengadvokasi kebutuhan sekretariat PKSAI Kota Mataram bersama dengan kadis sosial kota Mataram untuk tahun 2021.

5. Ketua PKSAI Kota Mataram akan memanggil khusus Kadis di setiap layanan yg mempersulit ataupun memperlama proses integrasi yg dibawa oleh PKSAI Kota Mataram

6. Ketua PKSAI Kota Mataram baik secara pribadi maupun atas nama Kota Mataram meminta kepada ketua LPA NTB H.sahan SH., untuk membantu dan membimbing PKSAI Kota Mataram dan turut andil dalam menyelesaikan permasalahan anak di Kota Mataram..ian