MATARAM-Dari sebanyak 871 yang suspect, anak-anak yang positif Covid 19 di NTB mencapai 259 orang. Mereka yang sudah dinyatakan sembuh mencapai 210 orang, sebanyak  43 masih dirawat dan meninggal 6 orang. Usia yang meninggal dunia sebagian besar 1 tahun.

Hal itu mengemuka dalam Talkshow Lindungi Anak dari Covid 19 yang digelar LPA NTB bekerjasama dengan Plan International dan PKK NTB, yang disiarkan langsung RRI Mataram, Senin (5/9). Tampil sebagai narasumber masing-masing Wakil Gubernur Hj.Sitti Rohmi Djalillah, Ketua TP PKK NTB, Hj.Niken Saptarini,  Ketua Ikatan Dokter Anak NTB Nurhandini Eka Dewi, Kepala DP3P2AKB Husnadiaty Nurdin, Direktur Esekutif Yayasan Plan International Indonesia Dini Widiastuti, dan psikolog Pujiarrohman.  Acara dibuka Ketua LPA NTB, H.Sahan SH.

Kepala Dinas Kesehatan NTB yang juga Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia NTB, dr.Nurhandini Eka Dewi, memaparkan dari 6 anak-anak yang meninggal karena covid, sebanyak 5 diantaranya berusia 1 tahun. Usia tersebut, lanjut dia, merupakan usia yang palig rawan.

 “Sebagian besar anak-anak dengan gejala penyakit pilek,” katanya seraya menambahkan, hasil evaluasi dari 259 kasus positif yang menimpa anak, 60 persen diantaranya tanpa gejala. “Artinya mereka kemungkinan tertular dari proses kegiatan sosial,” cetus Nurhandini

Ia mengharapkan peran para  orangtua untuk mendidik anak-anak patuh pada protokol covid. Umur 2 tahun keatas misalnya, kata dia, pakai masker. Sedangkan anak di bawah 2 tahun harus pakai peace shield.

Terkait kiprah Yayasan Plan International Indonesia (PII), Direktur Eksekutif Yayasan PII, Dini Widiastuti, mengemukakan selama masa covid anak-anak terdampak diberikan buku dan permainan edukatif bersama mitra Disos dan Depdikbud.

“Sejak pandemi  ini sudah ada 33 ribu perempuan dan 34 ribu laki-laki yang sudah menerima. Yayasan PII pun memberi ruang pada anak memberikan suara dan tetap kreatif selama pandemi,” ujar Dini.

Ia menekankan pentingnya anak menjadi subyek dengan bersuara dan menyampaikan pendapatnya.

Menurutnya, para orangtua pusing memikirkan situasi dimasa pandemi, akan tetapi anak juga mengalami tantangan sosial mereka. Karena itu, kata Dini, (dalam kegiatan itu) remaja putri diajak menulis diary. “Apa yang mereka rasakan dan cara mereka mengatasi kebosanan. Parisipasi anak penting agar sampai pada pengambil keputusan,” cetusnya.

Menurutnya, jika anak-anak  tidak dilindungi selama setahun pandemik, akan banyak sekali yang hilang dari anak-anak. Ia berharap semua bekerja bersama memastikan anak-anak mendapatkan hak-haknya.

Kepala DP3P2AKB NTB, Husnadiaty Nurdin, dalam kesempatan yang sama menyebut ada 31 hak anak. Dalam kondisi covid, kata dia, tentu ada hak mereka yang hilang. Karena itu, ia menegaskan harus memaksakan diri tetap bermasker untuk menjaga anak tidak tertular dan kehilangan haknya.

Dalam pemenuhan hak anak, pada masa pandemi ini mereka tidak sekolah secara ofline sehingga tugas orangtua menyiapkan buku bacaan di rumah yang bisa menambah pengetahuan anak-anak, termasuk di bidang agama. “Pemenuhan hak anak perlu diperhatikan di lingkungn keluarga,” ujarnya.

Psikolog Pujiarrohman mengemukaan Covid membuat kerinduan anak-anak memulai akifitas seperti biasa begitu memuncak. Hal itu merupakan perasaan positif dan sangat baik. Namun, mengacu ada aturan yang sudah digariskan Pemerintah Pusat, orangtua perlu membiasakan bagaimana anak-anak tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Karena cuci tangan dan menggunakan masker adalah prilaku. Dalam konteks itu harus dilatih terus menerus dan akan menjadi kebiasaan. Para orangtua sendiri tidak hanya memberikan saran melainkan menjadi panutan,” kata Pujiarrohman seraya mengaku sering kali melihat di lapangan anak menggunakan masker namun orangtuanya tidak.

Ia menilai prilaku di Indonesia kerap kali diawali dalam konteks punishman. Padahal prilaku itu untuk diri masing-masing.

“Kita cuci tangan saja ribuan kuman bisa hilang, apalagi memprotek diri kita dengan masker. Kalau hanya sekadar takut polisi tidak gunakan masker maka itu memberi peluang penyakit masuk,” ungkapnya.

Terkait upaya kreatif yang dilakukan anak selama belajar dari rumah, salah seorang siswa asal Lobar, Ibnu Sabil mengatakan pihaknya berkreatifitas membuat video pendek terkait pencegahan perkawinan anak dengan protokol kesehatan. Namun disisi lain, ia mengaku banyak melihat anak-anak dimasa pandemi Covid 19  diajak bekerja menambah penghasilan keluarga. Hal yang mengherankan bahkan ada diantaranya yang kawin usia dini walau tidak ada satupun diantara yang menikah itu pacarnya.