Pemenuhan hak-hak sipil warga negara bidang Administrasi Kependudukan melalui program emergansi di lokasi terdampak bencana gempa bumi melalui Unicef dan LPA NTB di Lotim tahun 2010 disamping memprioritaskan anak usia 0-18 tahun juga memperioritaskan penyandang disabilitas dan anak-anak buruh migran. Dari dua desa yang sudah dilayani, teridentifikasi sebanyak 47 diantaranya divabel.

   Anak-anak buruh migran di Desa Sambelia dan Labu Pandan sebanyak 32 orang bisa dilayani. Namun, masih ada yang belum terlayani. “Mereka terlambat karena ada yang pegang berkas miliknya tidak ada di tempat,” kata relawan LPA NTB, Julia.

   Kelompok ini ternyata memang rentan terabaikan hak-hak sipilnya karena pihak keluarganya selalu menyembunyikan keberadaan mereka lantaran merasa malu diketahui memiliki anggota keluarga divabel.

     Namun dalam program ini pemerintah desa dan jajarannya telah berhasil mengubah pola pikir yang sangat klasik itu setelah mendapat penjelasan saat sosialisasi termasuk didalamnya anak-anak yang tidak dikehendaki kelahirannya akibat kekhilafan kedua orang tuanya. Anak-anak yang kelahirannya tidak diharapkan ini potensi terputusnya dengan orang tuanya karena mereka dipelihara oleh keluarga lain dan bahkan dimasukkan dalam satu Kartu Keluarga (KK) dengan status anak dari orang tua angkatnya.    

    Fakta-fakta seperti ini yang banyak ditemukan di Kecamatan Sambelia. Melalui sosialisasi program Unicef-LPA NTB, Tim Dinas Dukcapil Lombok Timur memberikan pencerahan agar prosedur penggunaan status dalam KK dilakukan secara benar sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

     Julia mengatakan rata-rata malu memiliki anak divabel. Model pelayanan divabel diuruskan di kecamatan. Namun, ini didata kembali. Tidak sedikit yang dokumennya hilang kemudian dicetakan ulang. “Di Sambelia saja yang dicetakkan ulang sebanyak tiga orang divabel,” cetus Julia.

      Mereka ada yang lumpuh, buta, tidak bisa bicara. Yang terlayani pada saat pelayanan keliling di Desa Sambelia bernama Lalu Darma yang lumpuh dan mengalami kelainan jantung.

    Diperkirakan, masih ada divabel yang belum memiliki akta kelahiran sebanyak 10 orang masing-masing di Sambelia dan Labu Pandan.