Rias Pratiwi M.Psi

MATARAM, Ada dua kelompok yang rentan dimasa pandemi Covid 19. Kelompok itu masing-masing anak dan lansia.

Demikian dikemukakan psikolog Rias Pratiwi dalam Webinar bertajuk “Penguatan Kapasitas Pemerintah Desa dan Pokja Adminduk Perlindungan Anak dan Pencegahan Perkawinan Anak”, Rabu (3/9). Acara yang diikuti para kepala desa di Lobar via daring itu juga menghadirkan narasumber aktifis perlindungan anak,Joko Jumadi.

Menurut Rias yang membahas Psychological Firs Aid (PFA), lansia rentan selain karena faktor usia juga karena sering kali banyak penyakit lain yang mengikutinya. Sedangkan pada diri anak karena mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukan jika mengalami problem yang dihadapinya. Anak-anak kadang mengalami stress namun orangtua tidak menyadarinya.

Stress  pada diri anak terdiri dari stress ringan, sedang dan berat. Dimasa pandemi bisa dilihat dari gejala seperti perubahan prilaku. Misal dulu ceria jadi pendiam, gampang diatur  jadi agresif. gampang tidur jadi gelisah, tak pernah ngompol jadi ngompol, mudah makan jadi tidak mau makan dan minum, susah buang air besar dan masalah perubahan prilaku lain.

 “Stress masih kondisi ringan ketika mengalami tekanan, sebulan dan dua bulan masih aman asalkan kebutuhan dasar terpenuhi. Agar tidak naik ke stress sedang harus penuhi kebutuhan dasar itu,” katanya  sambil menyebut kebutuhan dasar seperti makan dan tidur.

Stress sedang, lanjut dia, perlu dukungan keluarga dan komunitas. “Selama ini anak anak sulit karena kehilangan banyak teman sebayanya, tidak sekolah lagi yang menimbulkan masalah baru,” katanya. Hal ini memerlukan pemenuhan kebutuhan rasa aman dengan mengajaknya berkomunikasi. Sedangkan dalam situasi stress berat diperlukan penanganan medis.

Ia mengatakan PFA dirancang untuk mengurangi tekanan awal yang disebabkan oleh trauma peristiwa dan untuk mendorong fungsi dan koping adaptif jangka pendek dan jangka panjang.  “Tujuan PFA adalah agar memiliki pemahaman traumatis sebelumnya. Harus diketahui apakah gejala karena covid atau masalah lain,” ujar Rias.

Jika kondisi covid membuat mereka membayang-bayangkan bahwa diri mereka akan  meninggal, kata Rias, situasi ini berada pada stress sedang.”Yang paling banyak masalah adalah banyak yang kehilangan mata pencaharian sehingga berdampak pada keseluruhan keluarga itu,” ujarnya.

Rias kemudian memberi solusi bagi pendamping agar segera memberi bantuan pada orang yang memerlukan dukungan. “Biasanya manusia suka didengarkan dan kita dengar keluhan mereka. Kalau didengerin saja dia sudah merasa baik maka sudah tercapai tujuan PFA,” katanya.

Ia menyebut biasanya masalah disebabkan kekurangan informasi. Karena itu tugas pendamping memberi tahu informasi yang akurat agar tak salah pemahaman.

Caranya, harus berempati. Empati dalam kaitan ini berusaha berfikir bahwa banyak orang yang mengalami pandemi.

“Jangan bilang segitu saja takut. Kita berempati bahwa tak cuma ibu yang mengalami tapi banyak yang lain. Kalau simpati ikut terbawa suasana orang yang kita dampingi,” urainya seraya menambahkan dukungan sosial dengan berempati diarahkan pada hal positif yang dimiliki korban dan tidak bersikap diskriminatif.

Menurut Rias, ada perbedaan antara situasi bencana dibandingkan covid kali ini. Jika bencana memiliki siklus masa, sedangkan pandemi tergolong krisis yang butuh waktu lebih panjang sehingga memerlukan pemahaman terkait sistem rujukan, jejaring, bantuan dana, dan lain-lain.

“Sikap sebagai pendamping harus sangat berempati. Bisa bekerja sama dan bekerja tanpa  pamrih,” katanya. Selain itu ada keterampilan dasar atau mampu mendengarkan secara aktif.

Menjawab pertanyaan bagaimana teknik pendekatan jika keluarga korban tertutup? Kata Rias, pendamping harus tahu konteks korban. Biasanya, lanjut dia, ada faktor seperti kemungkinan mengalami ketakutan terhadap informasi.

“Kita tanya tak langsung ke masalahnya, berusaha meyakinkan bahwa apa yang kita lakukan untuk kebaikan dia dan tidak akan bocor. Jadi jaga kerahasiaan. Kita membina  hubungan dengan cara bertanya agar kita yakin pada diri kita sebelum mengarah pada pertanyaan yang mengarah pada diri korban,” paparnya.

Lantas bagaimana fungsi perangkat desa dalam pendampingan dimasa covid? Rias mengatakan tugas perangkat desa adalah sebagai mediator, melakukan pemetaan dan mengelompokkan mana yang paling membutuhkan.

Desa juga mempersiapkan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat seperti bagaimana mencegah covid dan fungsi keluarga sehingga desa berperan penting dalam pemetaan, pendampingan, edukasi dan pusat informasi.

 “Desa bisa memfasilitasi. itu utama yang harus dilakukan,” cetusnya.ian