Seorang ibu tidak bisa mengurus akta kelahiran anaknya karena usia si anak tidak sesuai dengan usia pernikahannya. Usia perkawinannya baru lima bulan namun si anak sudah lahir.  Lantas kenapa anak-anak yang tidak jelas orangtuanya atau bahkan yang kawin siri bisa mengurus akta kelahiran?

Pelayanan keliling LPA NTB-Unicef bekerjasama dengan Dinas Dukcapil Lombok Barat di Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar, bula Februari lalu tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dokumen administrasi kependudukan (adminduk) warga melainkan juga menyisakan berbagai persoalan yang membuat warga tidak segera bisa diselesaikan adminduknya.

Salah satu persoalan menimpa seorang anak yang lahir 15 Oktober 2016, padahal kedua orangtuanya menikah 20 Mei 2016. Menurut kader LPA NTB, Khairul Anam, si ibu ingin mengurus akta kelahiran anaknya yang sudah berusia dua tahuhn.

Diketahui anak itu lahir lima bulan setelah pernikahan alias belum 9 bulan usia pernikahan. Namun, berdasarkan peraturan, anak yang menikah siri apalagi pernikahannya sudah sesuai aturan pemerintah maupun agama, maka berkas untuk pengajuan akta kelahiran bisa diajukan.

Tidak hanya itu, setelah bertahun-tahun anak lahir kemudian dilakukan isbat nikah kedua orangtuanya maka akta kelahiran yang lengkap dengan mencantumkan nama ibu dan bapak bisa diselesaikan. Sayangnya, hal itu tidak  berlaku di Lombok Barat. Menurut Khairul Anak, dalam catatan berkas yang dikembalkan Dukcapil Lobar, orangtua si anak disuruh memperbaiki buku nikah. Lhok, kok?

Ketua LPA NTB, H.Sahan, SH, menilai kasus ini sama dengan mereka yang melakukan isbat nikah kemudian bisa mengurus akta kelahiran anaknya. “Seharusnya itu bisa diselesaikan,” kata Sahan Senin (11/3), seraya menambahkan tidak boleh ada lagi persoalan dalam pembuatan identitas hukum anak karena sejak dilahirkan di rumah sakit pun anak sudah harus diurus akta kelahiranya.

Ia menegaskan kebutuhan akta kelahiran tidak lagi menjadi kebutuhan warga melainkan sudah menjadi kebutuhan pemerintah. “Karena itulah dilakukan percepatan kepemilkan adminduk di Indonesia dengan target yang terus meningkat,”  jelas H.Sahan.

Kendati akta kelahiran anak di Senggigi itu masih bermasalah dan belum diselesaikan dengan alasan “ditolak system”, Khairul Anam mengatakan bahwa pihak Dukcapil akan mengusahakan agar akta kelahiran itu bisa diselesaikan. “Sudah saya telepon katanya akan diselesaikan,” ujarnya.

Ogah Urus Akta Anak dari Ibu

Menurut Khairul Anam, masalah lain yang mengemuka adalah ogahnya para orangtua mengurus akta kelahiran anaknya jika hanya mencantumkan nama ibu. Padahal, anak itu lahir dari pernikahan siri. Mereka beralasan bahwa karena anak adalah hasil dari ibu bapaknya maka kedua nama orangtuanya harus dicantumkan. ian