Rapat koordinasi Tim Covid-19 Provinsi NTB, Jumat 20 November 2020 yang difasilitasi oleh LPA NTB dan DP3AP2KB Provinsi NTB, mendatangkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr.H. Aidil Furqan.

Dalam paparannya, Aidil berfokus pada permasalahan jumlah anak usia SMA/sederajat yang menikah dimasa pandemi. Hal ini membawa konsekuensi teknis naiknya tingkat angka drop out dan menurunkan angka partisipasi murni pendidikan, permasalahan sosial dan kesehatan reproduksi bagi anak yang terlanjur kawin.

Strategi yang dipaparkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ada empat. Pertama fungsi promotif dan preventif yaitu dengan cara pengintegrasian materi kesehatan reproduksi sebagai bagian penyadaran kepada anak didik untuk tidak menikah saat masih bersekolah.

Efektifitas integrasi ini akan sangat bergantung pada koordinasi yang baik antara guru-guru yang mata pelajarannya terkait, guru BK, leadership dari kepala sekolah dan pengawas.

Kedua, untuk anak yang terlanjur menikah, ada dua strategi. Pertama adalah penyediaan model SMA terbuka yang memungkinkan peserta didik mendapatkan tutorial dari guru kunjung dan datang ke sekolah saat ujian. Kedua, jika usia peserta didik drop out telah melebihi usia sekolah maka Kejar Paket C dijadikan pemecahan.

Selanjutnya, isu pencegahan perkawinan anak di usia sekolah, disetujui dalam rapat koordinasi sebagai isu bersama. Sekolah secara internal akan dan telah menyosialisasikan materi kesehatan reproduksi namun pengarusutamaan pemahaman pentingnya anak menamatkan pendidikan dan pencegahan perkawinan anak kepada orang tua dan masyarakat juga merupakan faktor yang mendorong keberhasilan pencegahan perkawinan anak. Untuk itu, perlu diefektifkan satuan tugas dari tingkat desa antar tim gugus COVI-19 NTB secar khusus, maupun stakeholders lain secara umum untuk bersinergi.