LPA NTB menyasar setidaknya 200 kepemilikan akta kelahiran baru di Desa Batulayar, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Namun, dalam pelayanan keliling pemenuhan adminisrasi kependudukan di desa setempat, tidak hanya akta kelahiran yang dilayani melainkan juga dokumen kependudukan lain seperti KTP, akta kematian dan kartu keluarga.

Setidaknya, sejak digelar pagi hari hingga sore hari, pelayanan keliling yang bekerjasama dengan Dinas Dukcapil Lobar itu sangat antusias diikuti masyarakat. Warga berbondong-bondong datang ke kantor desa baik yang lewat kader posyandu maupun secara mandiri. Hal serupa berlangsung di bebeapa desa di KLU, Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Pelayanan keliling itu sendiri merupakan hasil dari sosialisasi yang dilakukan kader LPA di tingkat dusun dan desa. Program percepatan kepemilikan dokumen adminduk tesebut merupakan kerjasama dengan Unicef yang di Lobar disusul MoU dengan Pemkab Lombok Barat,

Sekretaris LPA NTB, Sukran Hasan, Rabu (4/4), mengemukakan pelayanan keliling di desa tidak lepas dari upaya mendekatkan pemerintah dengan masyarakat. Hal itu sekaligus untuk mempercepat akses dan mempermudah masyarakat menerima pelayanan mengingat banyaknya warga yang tidak paham pengurusan adminduk.

Di Desa Batulayar sendiri diperkirakan sebanyak 200 warga usia 0-18 tahun belum memiliki akta kelahiran. Hanya saja, tidak semuanya yang datang mendaftar. Dari 200 an warga yang hadir, tidak sedikit yang mengurus dokumen KK dan KTP.

“Sebab masih banyak juga warga yang tidak punya KTP,” kata Kadus Oyong, Desa Batulayar, Kurnain, Rabu (4/4). “Ada yang bahkan sudah melakukan perekeman beberapa waktu lalu datang lagi mengurus KTP karena belum mendapat KTP yang diinginkan,” lanjutnya.

Hanya sekira 100 orang yang mengurus akta kelahiran pada pelayanan keliling di Desa Batulayar. Walaupun demikian, mereka yang belum datang pada saat pelayanan kelilng masih akan dicari dan dilayani pada hari berikutnya. “Kami optimis 100 persen mereka yang belum memiliki akta kelahiran akan terlayani,” ujar Imam Prasetyo, salah seorang relawan LPA NTB.

Masyarakat Batulayar tergolong antusias mengurus dokumen adminduk. Sebut saja Muhammad, warga Dusun Teloka, yang khusus mengurus akta kelahiran dua orang anaknya. “Dua anak saya satu masih kelas tiga  SMA dan satu sudah tamat SMA belum punya akta. Sekarang saya uruskan,” katanya seraya menambahkan bahwa dirinya sendiri pun belum punya akta kelahiran

Muhammad yang berprofesi sebagai tukang itu menuturkan dahulu tidak sempat mengurus akta kelahiran anaknya lantaran  tidak mengetahui caranya. Kesibukannya sebagai tukang juga menambah beban personalan. Apalagi jika dilakukan secara mandiri, jarak rumahnya dengan ibukota Kabupaten Lobar relatif jauh.

“Dengan adanya pelayanan keliling ini cukup membantu karena cukup dilakukan di desa. Bersyukur LPA NTB melakukannya bekerjasama dengan pemerintah,” kata Muhammad yang mengaku berpenghasilan Rp 80 ribu sehari dari keterampilannya sebagai tukang. ian