Novi Indraswari menelan pil pahit terkait masalah identitas hukum. Namun ia begitu pandai mengambil hikmah dari pengalaman masa lalunya tersebut untuk membantu masyarakat.

Herman adalah seorang anak pengidap penyakit polip ganas. Berdasarkan hasil diagnosa dokter, penyakitnya harus segera diangkat dan direkomendasi untuk dioperasi ke Rumah Sakit SHANG LAA Denpasar.

Hasil pemeriksaan itu membuat panik kedua orang tua Herman. Dari mana biaya dicari, sedangkan mereka adalah keluarga miskin?  Mereka belum memiliki KK dimana Herman harus pula ada di dalamnya. Ditambah lagi BPJS Pemerintah yang dimiliki Herman pada tanggal lahir dan NIK-nya tidak sama dengan KTP yang dimiliki Herman. Akibatnya, BPJS-nya tidak bisa difungsikan.

Mengetahui hal itu, dengan sigap Novi membantu melakukan perubahan KK (untuk memasukan nama Herman di dalam KK orangtuanya) di Kantor Catatan Sipil Kabupaten Bima sekaligus membuatkan akta kelahiran untuk 6 saudara Herman yang lain. Berkat kegesitannya, hari itu juga pelayanan terhadap KK dan akta dapat bisa dilakukan. Setelah itu, Novi langsung menuju Kantor BPJS Kabupaten Bima untuk mengurus perbaikan BPJS atas nama Herman. Akhirnya, impian Novi membantu keluarga Herman terkabulkan.

Novi pulang dan menyerahkan dokumen KK, akta kelahiran dan BPJS kepada keluarga Herman. Mereka sangat senang, terharu dan berterima kasih kepada Novi. Dengan dokumen tersebut, pada malam itu juga Herman didampingi ayah dan ibunya menuju Rumah Sakit di Denpasar sesuai dengan rujukan. Alhamdulillah, operasi berhasil dilakukan. Herman pun sudah sehat.

“Saya merasa bangga dan bersyukur pada Allah karena masih diberi kesempatan untuk bisa membantu orang-orang yang sangat memerlukan. Apapun saya akan lakukan karena saya senang melihat ketika mereka bisa tersenyum saat dukanya terlewati,” tutur Novi dengan haru.

Kisah lain menimpa  kakak beradik (Putri dan Ferdiansyah) yang telah ditinggal mati oleh ayahnya. Sedangkan ibunya memilih untuk menikah lagi.

Kedua anak ini tinggal bersama kakek dan neneknya yang bernama Arasyid dan Ma’ani. Mereka dari keluarga miskin yang ada di desa itu.

Putri yang berumur 11 tahun dan adiknya yang 8 tahun tidak memiliki identitas berupa akta kelahiran. Padahal neneknya menginginkan Putri dan Ferdiansyah dimasukan dalam KK kakek neneknya. Novi pun membantu untuk membuatkannya.

Kuatnya tekad Novi membantu mereka karena Putri mengidap kelainan pada anusnya. Dengan dasar inilah diupayakan untuk pembuatan BPJS supaya bisa melakukan perawatan lebih lanjut terhadap kesehatan Putri.

Terdapat pula kelompok warga miskin di Desa Darussalam yang tergabung dalam Kelompok Pugar. Kelompok ini berkeinginan mengembangkan usahanya sehingga mengharapkan modal usaha. Namun, untuk mendapatkan modal usaha, setiap anggota harus melampirkan KTP-el. Ketiadaan KTP-el  ini menyebabkan beberapa anggota kelompok tidak bisa mendapatkan bantuan modal.

Dalam pikiran kelompok masyarakat itu terlintas nama Novi. Setelah mereka bertemu, ternyata ada dari mereka yang sudah melakukan perekaman tapi belum keluar KTP-nya. Novi sigap menuju Dukcapil Bima untuk melakukan kroscek hingga keinginan itu tercapai.

Hikmah Pengalaman

Adalah perempuan biasa dari keluarga miskin di Desa Darussalam bernama Novi Indrasari yang begitu gesit melakukan gerakan kemanusiaan untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan. Gadis kelahiran 18 Oktober 1995 ini merupakan sosok sederhana yang terpaksa harus berpisah dengan ayahnya karena perceraian. Diapun tinggal bersama ibunya dan  dua orang adiknya yang kini sedang duduk di bangku SMP.

Kondisi ekonomi keluarganya yang sangat terbatas membuat dia harus membantu ibunya mencari tambahan penghasilan untuk kebutuhan keluargannya. Keseharian Novi disamping sebagai Kader Posyandu juga sebagai guru honorer pada PAUD Khusnul Khatimah yang ada di desanya sejak 3 tahun yang lalu.

Kepeduliannya terhadap kepemilikan identitas hukum warga ini berawal dari pengalaman pribadinya. Ia harus menelan pil pahit ketika kedua orangtuanya bercerai. Perceraian itu menyebabkan kepemilikan identitas seperti KK dan akta kelahirannya menjadi tidak terurus. Padahal, kebutuhan akan akta kelahiran bagi dunia pendidikan dan kesehatan teramat penting.

Novi teringat ketika menginjak remaja. Dia mengalami sakit yang harus cepat ditangani oleh pihak rumah sakit, tetapi kenyataannya tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal dikarenakan orang tuanya (ibunya) belum memiliki KK. KK itu sudah dibawa oleh ayahnya yang telah menikah dengan wanita lain. Begitu pula dengan akta kelahirannya dan kedua adiknya pun belum ada.

Pengalaman itu membuat Novi ingin membantu masyarakat miskin dan anak yang belum memiliki akta kelahiran, KTP dan KK. Karena, banyak dari warga masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa melawan kenyataan hidup akibat sakit yang diderita. Mereka tidak bisa mengurus BPJS dan layanan lainnya terutama untuk kaum disabilitas dan miskin.

Sosok Novi dianggap sebagai seorang yang selalu peduli dengan kepemilikan identitas hukum warga yang ada di Desa Darussalam.  Ketika ada warga masyarakat ingin mengurus identitas hukumnya maka selalu meminta bantuan kepada Novi. Kepercayaan masyarakat pun semakin kuat ketika hadir Program Pemenuhan Identitas Hukum Masyarakat Berbasis Desa melalui Revitalisasi Kearifan Lokal oleh LPA NTB yang merupakan kerjasama dengan Kompak. Novi dipercaya menjadi anggota Pokja Identitas Hukum di Desa Darussalam.

Sejak 5 tahun yang lalu sampai dengan hari ini Novi telah melakukan aktivitas membantu masyarakat  untuk mendapatkan identitas hukumnya.

“Saya Insya Allah membantu masyarakat ikhlas karena saya ingin mereka merasa bangga dengan dirinya ketika memiliki identitas hukum sebagai bentuk penghargaan Negara terhadap hak dasar yang harus mereka miliki,” ujar Novi.

Ketika bicara tentang berapa banyak yang telah Novi layani diluar kegiatan Layanan Keliling oleh LPA yang bekerjasama dengan Kompak, ia mengatakan, membantu ke Catatan Sipil Kabupaten Bima dengan mengurus KTP-el sebanyak 230, KK sebanyak 94 dan akta kelahiran 130”.

Sedangkan di Pemerintahan Desa Darussalam, munculnya Perdes No 02 Tahun 2018 tentang APBDes Darussalam tidak lepas dari kiprah Novi, Dalam perdes itu termuat layanan anggaran identitas hukum warga sebesar Rp 4. 750.000. Terdapat pula bantuan pemberdayaan bagi kelompok disabilitas Rp 6.000.000 dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat Lansia Rp 6.000.000.

Kegiatan dalam APBDes ini merupakan hasil analisa dan advokasi oleh Pokja pada Pemerintah Desa Darussalam. Perubahan ini bukan hadir begitu saja, melainkan berkat peran dan fungsi dari orang-orang yang peduli seperti Novi.