Warga masyarakat sering kurang begitu sadar mengurus dokumen adminduk, sampai-sampai Samsiah, ibu kelahiran 1 Januari 1979, harus berbicara berulang kali. Namun, berkat ketekunannya pemenuhan adminduk di desa bahkan luar desanya berhasil difasilitasi tanpa menghitung untung rugi

Di Dusun Beringin Jaya, Desa Labangka I, Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa,  ada sepasang suami istri yang menyandang masalah agama. Pada akta nikahnya yang sudah keluar sekira tahun 2012, terdapat identitas agama yang berbeda antara suami dan istri. Nah, mereka mau mengubah terkait identitas agama yang dianut.

Dalam akta nikah itu tertera sang istri yang bernama Desi beragama Islam sedangkan sang  suami beragama Hindu. Padahal, sang istri sudah masuk agama Hindu mengikuti suami. Bagaimana mengurus akta nikah semacam itu? Pasangan yang bersangkutan saja enggan. Tapi bagi Samsiah, tidak ada kata sulit.

Suami istri itu nampaknya tak mau repot mengurus keperluan dirinya sendiri. Karena itu, Samsiah mencoba membantu. Pertama mencari tahu mekanisme pengurusannya soal pindah agama tadi. Ia pun  mendatangi tokoh-tokoh Hindu di banjar tempat pasangan suami itu bermukim.

Ia menjadi tahu jika orang Islam masuk Hindu namanya sudiwedani. Untuk mengurus berkenaan dengan perubahan identitas agama, Samsiah harus mencari ketua banjar bersangkutan. Pasalnya, salah satu syarat untuk mengubah status agama adalah keterangan sudiwedani. Nampaknya bukan banjar yang berperan, melainkan PHDI Sumbawa. Inilah yang dipersyaratkan Dinas Dukcapil.

Samsiah harus bolak-balik ke Dukcapil dan ke ketua PHDI. Anehnya, pihak PHDI tidak juga mengeluarkan surat keterangan itu walau berulang kali ia datang. Alasannya menunggu hari baik. Padahal, hanya syarat ini saja yag ditunggu.

“Sampai sekarang ini belum selesai, padahal yang bersangkutan sekarang sudah memiliki dua orang anak,” tutur Samsiah tentang begitu sulitnya mengurus sebuah perubahan akta oleh beberapa persoalan.

Terdapat pula kasus pasangan yang sudah cerai yang memiliki dua anak dari istri pertama. Sayangnya, perkawinannya dengan istri pertama tidak tercatat. Mau nikah lagi tak juga punya akta cerai. Padahal, akta cerai diperlukan agar perkawinan yang kedua bisa tercatat. Ini sebuah persoalan. Karena itu, Samsiah harus menelusuri dari awal persoalan itu. Diperlukan waktu yang tidak singkat menyelesaikan masalah adminduk itu.

“Di Labangka banyak kasus seperti ini. Ada banyak penikahan tidak tercatat,” kata relawan Pokja Identitas Hukum Desa Muir, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa ini. Terdapat pula mereka yang menikah namun tidak memiliki keluarga. Warga masyarakat semacam inilah yang menjadi persoalan dalam pengurusan adminduk. Ketika status mereka diketahui dan hendak diuruskan, yang bersangkutan justru cuek saja.

“Saya sudah biasa menguruskan keperluan identitas hukum warga. Jadi biasa saja menghadapi tipikal warga seperti itu,” tuturnya. Barangkali, jika orang lain menghadapi orang semacam itu akan langsung meninggalkannya, bagi Samsiah tidak demikian. Ia merasa memiliki tanggung jawab. Itu semua dilakukan sebagai panggilan hati. Tidak jarang, orang yang sama meminta bantuan kepadanya. Tidak hanya perempuan, melainkan juga laki-laki.

Sejak 2015

Samsiah mulai mengurus adminduk warga ketika membuat akta kelahiran untuk tiga orang anaknya tahun 2015.  Kala itu ia mendatangi Dinas Dukcapil Kabupaten Sumbawa yang jaraknya lumayan jauh dari desanya. Setelah berdialog dengan pejabat di sana, diketahuilah bahwa prosedur pembuatan akta kelahiran sebetulnya tidak terlalu rumit. Hanya saja, banyak warga masih enggan mengurus sendiri identitas hukum itu. Apalagi warga di desanya yang rata-rata berpendidikan rendah dan berprofesi sebagai petani.

Anehnya, pihak Pemerintahan Desa Muir, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, banyak yang tidak mengetahui prosedur pembuatan akta kelahiran. Malah tumpuan harapan diserahkan kepada Samsiah untuk mengurus berbagai keperluan, terlebih Samsiah tergolong relawan yang rajin.

Karena begitu pentingnya akta kelahiran ini, Samsiah akhirnya  mencoba menyosialisasikannya kepada masyarakat di dusunnya agar segera mengurus akta kelahiran. Hal ini menerima respon positif sehingga akhirnya banyak warga yang menitip pengurusan adminduk kepada Samsiah.

Sebagian besar warga, selain tidak mengetahui prosesnya, juga enggan meluangkan waktu untuk urusan yang satu ini. Mereka beranggapan tidak penting. Terlebih jarak yang mesti ditempuh dari Desa Muir menuju Sumbawa tidaklah dekat. Hanya Samsiah yang bersedia melakukan perjalanan panjang itu.

Demi melihat apa yang diinginkan selalu beres, Samsiah menjadi begitu terkenal di desanya. Warga Dusun Kaletee, Desa Muir, khususnya mulai sering membicarakannya jika mereka menyinggung masalah akta kelahiran. Bisa dibilang, ia menjadi tempat bergantung urusan tersebut.

Nama Samsiah kemudian tidak hanya terkenal di Muir, melainkan di desa tetangganya. Hal itu bermula ketika tahun 2016 terjadi kecelakaan yang menimpa warga Desa Brangkolong. Seorang pemuda yang diduga mabuk, berdasarkan keterangan saksi, tewas di jalan akibat tabrak lari. Mayatnya tergeletak. Mengetahui hal itu, apalagi korban tergeletak di dekat rumah milik keluarganya, Samsiah mengurusnya. Ia curiga peristiwa itu bukan sebatas tabrak lari.

Karena keingintahuannya yang tinggi, Samsiah sampai mengurus ke kantor polisi. Ia seakan-akan diberi amanah menyelesaikan kasus itu, walau akhirnya kasusnya diikhlaskan pihak keluarga.

Dari pengurusan korban tabrak lari itulah warga mengetahui bahwa Samsiah juga rajin membantu masyarakat mengurus adminduk bagi mereka yang membutuhkan tenaganya. Kebetulan, ia mengenal kepala desa Brangkolong dan staf desa yang kurang faham mekanisme prosedur pembuatan akta kelahiran.

Walau Samsiah mencoba menularkan pengetahuannya dengan memberitahukan tata caranya, tetap saja warga masyarakat berharap Samsiah yang menguruskan keperluan mereka. Itu disebabkan faktor jarak yang jauh tadi. Disamping itu, kesibukan warga di lahan pertaniannya yang tidak bisa diganggu gugat.

Jika menguruskan adminduk warga, tidak jarang Samsiah merogoh saku pribadi untuk keperluan transportasi. Namun,  umumnya biaya transportasinya diganti di belakang hari.

“Kalau saya ada uang, kadang saya tolak pemberian,” katanya. Hanya saja warga sedikit memaksa agar dia menerimanya.

Setidaknya, sejak tahun 2015 hingga awal 2018 sudah 200-an warga yang diuruskan akta kelahiran olehnya. Sebutlah di Dusun Kaletee saja, dari 85 persen yang sudah melengkapi akta kelahiran sekira 75 persen hasil bantuan Samsiah. Ini belum terhitung di dusun lain di desanya dan warga tetangga di Desa Brangkolong.

Karena aktifitasnya di LPM bidang perempuan di Desa Muir, Samsiah menjadi lebih mudah untuk mengembangkan kerelawanannya. Selain dikenal warga masyarakat setempat, ia pun cukup dikenal di lingkungan Dukcapil. Kedekatan itu membuatnya lebih mudah menjalankan apa yang diamahkan warga yang memerlukan bantuan.

Setelah turut serta sebagai anggota Pokja Identitas Hukum Desa Muir, Samsiah dengan mudah mencari mereka yang belum memiliki akta kelahiran, KTP-el, termasuk buku nikah. Warga hanya cukup menyediakan persyaratan yang dibutuhkan karena tidak diperlukan biaya.

“Selain akta kelahiran dan KTP-el, di dusun saya saja ada tujuh pasangan yang ikut isbat nikah. Ada memang yang belum memiliki buku nikah karena mereka enggan mengikuti dan lebih senang mengurus sawahnya,” kata Samsiah.

Persoalan yang dihadapi Samsiah adalah pada tipikal warga bersangkutan. Warga sering malas untuk melengkapi persyaratannya. Sebutlah sering kali Samsiah meminta kelengkapan persyaratan seperti KTP untuk memenuhi persyaratan adminduk yang lain, tetapi itu sulit sekali dipenuhi. Bahkan untuk memperbarui akta kelahiran yang sudah ada sulitnya bukan main.

“Sampai-sampai saya sering ngomel. Padahal ini untuk kebutuhannya tetapi kok tidak juga mau memenuhi persyaratan yang sepele itu. Ini sampai dua tiga kali saya katakan,” urainya mencoba bersabar.

Tidak hanya itu, ketika pelayanan adminduk dilakukan bersama LPA-Kompak — dimana petugas Dukcapil sudah datang untuk pelayanan – warga sendiri yang tidak datang. Samsiah harus sedikit  memahami karakter warga yang memang harus dididik untuk mengetahui bahwa kebutuhan akan adminduk itu sangat penting. Karena itulah ia tetap setia membantu warga.

Sebagai perempuan aktifis di desanya, Samsiah tidak hanya memperjuangkan masyarakat agar memiliki identitas hukum, melainkan juga hak-hak lain. Sebut misalnya ketika berlangsung Musrenbangdes, Samsiah tergolong getol bersuara. Salah satu yang disuarakan adalah pemberian makanan tambahan untuk balita agar dianggarkan di APBDes.

Baginya, membantu warga itu sebuah kewajiban. Tekad itulah yang begitu kuat tertanam sehingga warga masyarakat sangat mengenalnya sebagai sosok yang baik. Jika warga mengetahuinya sedang berjalan kaki di jalan raya, sontak mereka akan memanggilnya, tentu untuk membocengnya menuju tujuan. yan