Seorang ibu bernama Inaq Ida tiba-tiba berteriak kegirangan. Ia tak henti-hentinya tersenyum dan mencium terus menerus lembaran akta kelahiran putranya yang bernama Rahmat Wahyu Ramdani (1,5 tahun). Pasalnya, Ida hanya menunggu 15 menit proses pembuatan akta kelahiran putranya. Ini pelayanan yang di luar dugaan.

“Terima kasih bapak, terima kasih bapak…” kalimat itu berulang ulang diucapkannya sambil menjinjing akta kelahiran putranya saat pulang meninggalkan Kantor Desa Labuhan Pandan, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.

    Lantas, kenapa hal itu bisa terjadi?

     Problem yang terjadi di Desa Labuhan Pandan nyaris sama dengan di Desa Sambelia yakni selama ini warga kehilangan kepercayaan dalam pelayanan Adminduk karena proses yang rumit, jarak tempuh, biaya dan tidak ada kepastian.

    Berbekal permasalahan itu, kader dan seluruh perangkat desa di Sambelia tanpa kenal lelah terus-menerus meyakinkan warga agar memanfaatkan kesempatan pelayanan keliling yang diinisiasi LPA dan Unicef.

    Alhasil sebagai desa pertama pelayanan hasilnya cukup membanggakan hal ini terbukti dengan jumlah layanan akta kelahiran anak usia 0-18 tahun sebanyak 243 orang dengan rincia laki-laki 128 orang dan perempuan 115 orang serta perekaman KTP-El sebanyak 27 orang..

        Hal baru yang dialami oleh Tim Akta Lombok Timur adalah pencetakan langsung akta kelahiran saat pelayanan yang langsung pula diterima oleh pemohon. Nah, pencetakan langsung saat pelayanan ini menjadi pertanyaan warga.

   ”Kenapa pelayanan yang diinisiasi LPA bisa secepat ini, sedangkan kalau warga sendiri yang mengurus tidak bisa…?”

     Berdasarkan hasil konfirmasi dengan Kabid Pelayanan Akta Dukcapil Lotim, Arfani M.Masani, ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab masyarakat tidak bisa mendapat pelayanan yang cepat, yakni karena masyarakat yang dilayani di Dukcapil sangat banyak. Selain itu, ada kemungkinan saat warga mengurus Adminduknya ada persyaratan-persyaratan yang belum terpenuhi.

     Berbeda halnya dengan pelayanan yang dimotori LPA dimana strategi LPA bahwa sebelum pelayanan dilakukan terlebih dahulu diadakan sosialisasi untuk memberikan pemahaman pada masyarakat tentang tata cara/prosedur serta syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tidak sebatas itu, LPA terus mengadvokasi pemerintah desa dan perangkatnya termasuk kader, toga, tomas dan tokoh-tokoh pendidikan agar bergerak bersama guna menyisir dari rumah ke rumah menyosialisasikan dan menemukan anak-anak yang belum memiliki akta kelahiran.

    Pemerintah desa memfasilitasi warganya untuk melengkapi persyaratan administrasi yang dibutuhkan. Artinya, kata dia, sebelum pelayanan diadakan semua persyaratan administrasi telah kelar. Sehingga, pada saat pelayanan sangat memungkinkan untuk mencetak langsung akta kelahiran tersebut. Atau kemungkinan pihaknya kesulitan untuk mengentri data tersebut di Kantor Dukcapil.

     Namun, umumnya, paling lambat 1-2 minggu aknta kelahiran sudah bisa dibagikan pada pemohonan.

     “Adapun kenapa pada pelayanan yang diprogramkan oleh LPA dan Unicef saat ini kami bisa mencetak langsung. Hal ini bisa kami lakukan karena saat ini sedang diuji coba suatu program yang diberikan oleh pemerintah saat Rakornas Dukcapil di Jawa tepatnya di Kota Semarang ,yakni Sistem Program  M to M. Jadi Sistem M to M ini akan terus kita terapkan disemua titik Pelayanan Keliling dan kami bersyukur program LPA-Unicef cukup membantu kami untuk uji coba sistem baru ini,” terang Arfani.

      Memasuki pelayanan hari kedua di Desa Labuhan Pandan Kecamatan Sambelia Kamis (7/2/2019), para relawan yang hanya bermodal semangat dan dorongan nurani untuk membantu masyarakat akhirnya membuat masyarakat kembali bergairah mengurus Adminduknya. Hal ini terbukti saat pelayanan berlangsung terkaper aktael kahiran anak usia 0-18 tahun sebanyak 331 orang dengan rincian laki-laki 196 dan perempuan 135 serta KTP-El 78 orang.