MATARAM-Sebanyak 259 anak NTB sudah terpapar Covid 19. Jumlah yang tidak sedikit itu mengharuskan masyarakat terutama para orangtua berperan lebih banyak untuk melindungi anak-anak dengan cara menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu mengemuka dalam Talkshow Lindungi Anak dari Covid 19 yang digelar LPA NTB bekerjasama dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia (PII) dan PKK NTB, yang disiarkan langsung RRI Mataram, Senin (5/9).

Tampil sebagai narasumber masing-masing Wakil Gubernur Hj.Sitti Rohmi Djalillah, Ketua TP PKK NTB Hj.Niken Saptarini,  Ketua Ikatan Dokter Anak NTB Nurhandini Eka Dewi, Kepala DP3P2AKB NTB Husnadiaty Nurdin, Direktur Esekutif Yayasan PPII Dini Widiastuti, dan psikolog Pujiarrohman.  Acara dibuka Ketua LPA NTB, H.Sahan SH.

Sahan pada pengantarnya mengemukakan tujuan talkshow itu sebagai media sosialisasi Pemprov NTB tentang edukasi dan pencegahan Covid 19 di NTB. Selain itu meningkatkan pemahaman orangtua tentang pentingnya perlindungananak menyusul penyebaran Covid yang sudah memapar 259 anak NTB.

Dalam kesempatan tersebut Sahan memaparkan kiprah LPA NTB yang sudah bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk YPII. Terkait Covid 19, kata dia, LPA sudah mengambil langkah-langkah dengan melakukan  intervensi 50 desa/kelurahan se Pulau Lombok untuk penguatan keluarga. LPA pun telah melatih sebanyak 75  kader desa sebagai fasilitator untuk lakukan pendampingan.

“Anak yang terpapar jadi dampingan para kader,” katanya seraya menambahkan upaya lain yang dilakukan meliputi  pembagian APD,  pembagian 2000 masker dan hand sanitizer serta pembahasan berbagai regulasi perlindungan anak. Hal ini tidak lepas dari peran agar  Covid 19 bisa dicegah.

Ketua TP PKK NTB, Hj.Niken Saptarini, memaparkan bahwa semua keluarga di dunia terkejut dengan wabah virus yang mengharuskan masyarakat beraktifitas di dalam rumah. Hal ini memerlukan adaptasi kebiasaan baru. Pola asuh juga harus menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

“Kala tadinya orangtua melakuan persiapan di luar rumah, kali ini di dalam rumah. Hal ini cukup mengubah ritme kerja orangtua,” ujarnya seraya menambahkan bahwa kini masih tetap saja ada penularan pada anak-anak yang membuat bertanya bahwa tidak semua orangtua berhasil dalam menjalankan tugasnya.

“Kita masih terus harus mengdukasi. Hak anak harus mendapat perlndungan,” lanjutnya.

Niken menuturkan ada beberapa tips dalam pengasuhan, yakni menggunakan waktu yang ada di rumah dengan kegiatan yang berkualitas  “Harus mengubah mindset bahwa anak-anak tidak harus menerima perhatian sedikit melainkan waktu yang berkualitas.Waktu di rumah agar benar-benar dicurahkan untuk anak. Dan ini suatu tantangan,” katanya.

Orangtua, kata Niken, juga harus bersikap positif karena tantangan kehidupan bertambah besar. Resesi di seluruh dunia ini membuat orangtua berfikir untuk mencari nafkah sehingga kadang membuat sikap positif menjadi sulit untuk dilakukan.

Namun demikian, Niken berharap kata-kata positif untuk anak ditengah berbagai tantangan mest tetap dijalankan, seperti  mengurangi kata-kata negatif dan  lebih kepada ungkapan apa yang diharapkan anak.

Menurut istri Gubernur NTB ini, anak-anak sejak bangun dari tidur sangat relevan untuk dipantau dan membutuhkan keterlibatan lebih orangtua. Bagaimana mengatasi perilaku anak-anak, lanjut Niken, selama ini pasti ada perkembangan pada anak baik positif maupun negatif. Sebagai orangtua mesti  mengawasi perkembangan pada anak.

“Pandemi ini kalau membuat anak mandiri itu bagus tapi kalau dia bermain game dan tidak peduli pada sekitarnya harus dilakukan langkah dan tindakan mengatasi prilaku yang kurang baik tersebut,” kata Niken, “Kemudian bagaimana tetap melakukan edukasi kepada anak dengan bahasa yang bisa dimengerti. “

Dalam penggunaan masker sebagai kebiasaan anak sangat tergantung orangtua sehingga perlu memberikan perhatian terkait protokol kesehatan dengan menjaga diri. Demikian halnya dengan asisten rumah tangga mesti diawasi karena menjadi potensi tertentu penyebaran Covid.

Ketika anak-anak yang sudah melakukan kegiatan ofline di sekolah, menurut Niken, orangtua perlu membekali anak-anak dengan pengetahuan dan kemampuan mengatasi penyebaran virus ini. “Tidak lengah. Virus ini tidak selalu bergejala demam,” ujarnya.

Kata dia, pengasuhan jadi kunci utama dalam pengasuhan anak. Karena itu, Program PKK dalam rangka melakukan pencegahan Covid melalui sosialisasi dan edukasi dengan menggunakan jaringan tim penggerak PKK dan kabupaten dan kecamatan.

“Edukasi terus berjalan sampai sekarang. Pun mellakuan pemberian masker pada anak-anak agar menggunakan masker secara suka cita,” cetusnya.

Bagi Niken, Covid 19 memberi tantangan. Bahwa masalah yang terjadi jangan membuat surut dengan tanggung jawab sebagai orangtua. Sehingga setiap orangtua perlu membekali  diri dengan pemahaman  agar anak-anak mendapat perlndungan dengan melaksanakan protokol kesehatan secara  disiplin. ian