Banyak persoalan administrasi kependudukan (adminduk) warga. Salah satunya terkait dengan tumpang tindih data seperti salah nama, tanggal lahir dan lain-lain. Hal inilah yang menyebabkan warga datang berbondong-bondong melakukan perbaikan di Kantor Desa Beriri Jarak, Kecamatan Pringgabaya, Lotim, Selasa (12/3), pada Yanling LPA-Unicef bekerjasama dengan Dinas Dukcapil.

Salah satu warga, Adi Satriadi, mengaku bingung tidak menemukan data KK yang dibuat tahun 2013 sehingga harus dientry data di Dukcapil Lotim. Data KK lama itu, kata dia, tidak ada lagi di Dukcapil. Ia pun harus membuat KK baru mengingat anggota keluarganya sudah banyak yang menikah.

Hal lain dialami Ruminah. Warga Beriri Jarak ini mengaku ada perbedaan tahun lahir anaknya sehingga harus melakukan perbaikan akta kelahiran. Sangat beragam persoalan adminduk di Beriri Jarak. Pada Yanling itu malah ditemukan 8 KTP palsu.

Ketua LPA Lotim, Judan Putrabaya, mengakui persoalan adminduk tidak hanya soal tidak ada kesadaran melainkan juga karena terjadi perbedaan antara nama pada akta kelahiran dan ijazah. Hal itu disebabkan ketika anak bersekolah, sering kali namanya diubah sehingga nama yang bersangkutan berbeda dengan nama yang tertera pada akta. Uniknya, yang diubah kemudian adalah akta kelahiran bukan nama pada ijazah.

Hal yang lebih krusial terjadi di Desa Beriri Jarak. Kades setempat, Fauzi, mengemukakan masalah yang paling mengherankan adalah masalah KTP. Terdapat seribu lebih warganya yang memiliki persoalan dengan KTP. Hal itu bermula ketika terjadi pemekaran Desa Karang Baru yang salah satu desa pemekaran bernama Beriri Jarak.  Akibat pemekaran desa itu, nama desa warga yang punya KTP harus diubah. Karena itulah warga mengembalikan KTP-e yang semula sudah dipegangnya. Walau terjadi sejak desa itu dimekarkan tahun 2011. “Sampai sekarang belum selesai karena terdapat 400 an warga yang tidak punya KTP,” cetus Fauzi seraya menambahkan bahwa warga kebingunan harus mencari kemana.

Tidak hanya itu, warga setempat pun berulang kali melakukan perekaman KTP di kediaman kadus. Perekaman tidak pernah menghasilkan KTP yag diinginkan walau warga terus bertanya hasilnya. Bahkan aparat desa pun bertindak menanyakan hal itu. Sayangnya, tidak ada jawaban pasti kapan KTP mereka rampung.

Kasi Capil Dinas Dukcapil Lotim, Azwarudin Anwar, mengakui persoalan KTP terletak pada blangko yang terbatas. Sering kali pihak Dukcapil mengajukan ke Pusat namun hanya menerima pengiriman dalam jumlah terbatas. “Kadang datang 2.000 blangko, sedangkan kecamatan kita saja 21,” katanya.

Menurut Azwarudin yang nampak sangat sabar melayani warga pada pelayanan keliling yang digelar LPA-Unicef bekerjasama dengan pihak Dukcapil itu, terjadi kepemilikan dokumen adminduk yang kian meningkat berkat intervesi berbagai pihak.